Hari itu saya bangun cukup cepat setelah tidur di kegelapan yang membuat saya lebih nyenyak, ato mungkin memang hari sebelumnya sungguh melelahkan. Hari ini adalah jumat, tanggal 18 juni 2010, rencananya siang ini setelah solat jumat saya akan melanjutkan perjalanan menuju distrik yembun, tempat penugasan PTT-ku.
Pagi di mega udara terasa sejuk, desiran air laut terdengar tiada henti, dan anak-anak serta remaja sudah memulai aktivitasnya untuk bermain, mandi, menaiki perahu dengan dayungnya untuk memancing. Sambil ngobrol dengan jefry dan dikelilingi anak-anak kecil yang berlarian, saya duduk di sebuah batang pohon di pinggir laut sambil menikmati suasana kampung pesisir pantai ini.
Di Mega, terdapat beberapa sumur mata air, dan rata-rata penduduk juga telah membuat MCK masing-masing di luar rumahnya, sehingga pagi itu saya bisa mandi dengan nyaman. Setelah mandi, saya sempatkan bermain dengan anak-anak sekitar dan berfoto-foto bersama mereka hingga waktu solat jumat pun tiba.
Setelah solat jumat, rencana kami akan pergi ke yembun yang berjarak sekitar 38 KM masuk ke gunung dari Mega dengan menumpang truck logging perusahaan di sana. Namun ternyata ada keadaan tidak semulus yang sudah kami rencanakan.

Di Mega sudah cukup banyak muslim, karena daerah ini banyak pendatang, kegiatan perdagangan pun terjadi disini, banyak warung yang menjual kebutuhan sehari-hari dan bensin/minyak seharga Rp.10.000/lt. Setelah solat jumat, saya dan kak Ardhie (perawat di puskesmas Mega) sedang berjalan pulang menuju rumah dinas ka ardhie tempat saya menaruh barang-barang ketika terdengar suara teriakan anak kecil di belakang. Kami berdua menengok dan berusaha memahami apa yang terjadi karena pemandangan hanya menunjukkan seorang anak yang menangis,teriak, dengan ayahnya yang tiba-tiba turun dari motor dengan sama bingungnya. Setelah si ayah menggotong anaknya, dia tersadar lalu lari menghampiri kami dan meminta tolong. Setelah saya perhatikan, ternyata jempol kaki anak ini sudah terputus sebagian